Featured Post by prajuritkecil99™
Latest Post

Wajib Baca Ini Jika Tidak Ingin Menyesal

by prajuritkecil99 ™
Tak jarang saat browsing sesuatu kita mendapati link dengan judul yang wow tapi begitu di-klik ternyata tidak seperti yang diharapkan. Zonk atau Jebakan Betmen istilahnya. :D

Begitupun dengan iklan maupun judul berita di media online. Kadang dibuat begitu fantastik dan bahkan cenderung kontroversial. Tapi anehnya kadang yang begitu itu justru yang banyak di-klik sehingga menaikkan traffic kunjungan dan berimbas pada page rank situs tersebut. Demikian halnya saat seseorang akan memasarkan suatu produk dan ingin mengetahui reaksi pasar sehingga memerlukan 'tester'.

Hal yang serupa (meski sebenarnya tak sama) saya coba lakukan kemarin. Sebagai seorang pelayan dan merangkap sebagai duta (cieee yang jadi duta pelayan cieee.. :v), dengan menumpang media sosial milik tempat kerja saya meng-upload video mengenai suatu kebijakan dengan harapan stakeholders yang selama ini kami layani dapat mengetahuinya. FYI, sebagian besar stakeholders yang selama ini kami layani sepertinya kurang minat membaca, baik itu peraturan maupun email yang kami kirimkan. Padahal peraturan dan informasi via email tersebut mereka perlukan. -_-

Mungkin saja mereka ini termasuk yang lebih senang dan lebih mudah memahami apa yang disampaikan melalui gambar atau video.

Dan karena menurut saya yang gaptek dan kudet ini video tersebut lumayan bagus (meksipun menurut rekan-rekan yang lain biasa saja banget) saya share lagi di satu grup yang anggotanya berprofesi sebagaimana dimaksudkan dalam video tersebut.

Dan ternyata lumayan direspon. Walaupun hampir kesemuanya terkesan negatif.

Negatif?! Yaa, tentu saja negatif jika kita menganggapnya negatif. Tapi saya pribadi sesunggunya lebih menghargai komentar yang jujur apa adanya daripada terkesan baik tapi sebenarnya fake. Bukankah konon pecinta hujan pernah mengatakan bahwa hujan yang turun itu lebih jujur daripada cahaya matahari yang tertutupi awan? :D :D :D

"Videonya nanggung!" – "Di mana coba kecenya video ini?" – "Terus kalau sudah begitu nanti mau apa?" – dlsb.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, menurut saya komentar-komentar tersebut sebenarnya membangun. Sebagai koreksi atas kekurangan dan ketidaksempurnaan kita. Sebagai pengingat bahwa sebaik apapun sesuatu pasti ada yang tidak suka. Dan kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukainya apalagi menyukai kita.

Pun dari respon tersebut kita jadi tau bahwa kebijakan yang disampaikan melalui 'video nanggung' tersebut perlu untuk segera diimplementasikan. Jangan menunggu sampai injury time. Syukur-syukur jika para pengambil kebijakan nantinya bisa mau mengerti dan memahami apa yang diinginkan oleh para pelaku profesi dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. *kenapa musti di lapangan coba?! >_<

Bahkan dari hal tersebut malah dapat bonus. Karena upload videonya menggunakan media sosial milik tempat kerja, jadinya yang semula tidak tau menjadi tau bahwa ternyata di pelosok nusantara ini ada tempat kerja pelayan yang namanya sungguh cantik. Karena penasaran, di-add friend lah demi menjalin pertemanan. Terus karena share di grup menggunakan akun media sosial milik sendiri, jadi ada yang kepo. Pas dilihat biodata eeeh ada blog ini. Dan tersesatlah mereka di sini untuk sementara. :v

Lalu bagaimana dengan komentar-komentar tadi? Hit and run saja. Di awal boleh lah kita tanggapi. Itung-itung sounding. Selanjutnya biarkan publik yang beropini secara jujur, adil dan terbuka. *dah mirip pilkada ajah.. :p

Perlu diingat bahwa apapun komentar yang diberikan orang lain kepada kita seharusnya kita terima dengan lapang dada. Tidak ada komentar yang negatif jika kita tidak memandangnya negatif. Semua sebenarnya dimaksudkan untuk perbaikan, hanya cara penyampaiannya yang mungkin kurang pas. Dan itu wajar. Siapa suruh kita kasih judul atau caption yang wow. Ketika ternyata didapati tidak seperti yang diinginkan yaa begitulah reaksinya.

Sama seperti Anda yang sedang membaca artikel ini. Bisa jadi setelah membaca malah menyesal, kecewa dan ingin meluapkan sumpah serapah. Kalau sudah begitu saya permisi minta ijin untuk kabuuur.. *jiakakaka..


Jebakan Betmen
gambar ngopi dari sini

Qkress - Ada Yang Wow Di Tiap Gigitannya

by prajuritkecil99 ™
Bersantai bersama keluarga atau sahabat tercinta, bercengkrama menikmati senja yang merona jingga dengan secangkir teh atau kopi dan camilan sebagai pelengkapnya, mungkin akan menjadi momen yang istimewa.

Seperti camilan keripik pisang ini misalnya.


Keripik Pisang Qkress


Pertama kali merasai camilan ini sepulang mudik Idul Fitri kemarin. Hadiah dari Mas Ismida & Mbak Sulis, sepasang suami-istri yang tinggal di seputaran Desa Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Melalui label UMKM "Atmaja Fam Sinergy" yang dirintisnya, mereka menamai salah satu produk homemade-nya ini dengan merk "Qkress".

Saya belum sempat bertanya mengenai cerita di balik pemberian nama yang cukup unik ini. Tapi yang pasti, camilan berbahan dasar pisang nangka ini sungguh lezat. Berbeda dengan keripik pisang pada umumnya. Qkress ini keripik pisang plus madu. Meski sudah ada gula dan masih ditambah balutan madu namun manisnya pas sehingga makin menambah cita rasa di tiap gigitannya yang gurih. Soal kerenyahan tak perlu diragukan lagi, so crunchy & so crispy. Mungkin karena kerenyahannya yang setiap kali digigit terdengar suara "kress.. kress.." itulah akhirnya dinamai Qkress. Mungkin.. :D

Ditambah dengan kemasan plastik tebal dan kedap udara, menjaga camilan ini tetap fresh sepanjang hari meski tanpa pengawet. Apalagi deodorant. *haiyaaa.. >_<

Tentu bukan semata karena free alias gratis jika kemudian saya, keluarga dan rekan-rekan Punggawa K-180 yang pernah merasainya bilang enak dan merekomendasikan camilan ini sebagai pilihan oleh-oleh terutama jika sedang berwisata ke Malang dan sekitarnya.

Dan mungkin banyak yang tidak percaya. Maka dari itu, sekarang lah giliran Anda untuk merasai sendiri camilan lezat yang kini telah tersedia dalam berbagai varian rasa.


Oleh-oleh Malang Qkress
all picts credited to Keripik Pisang Qkress


Gimana? Penasaran ingin merasainya? Silakan kontak langsung sang empunya di nomor 081252573481 atau sekalian add friend untuk berteman dengan FB-nya founder Qkress yaa..

Saya hanya tidak bertanggung jawab jika ada yang ketagihan setelah mencobanya. :D

Dari Air Terjun Tenilo Menuju Pantai Koya

by prajuritkecil99 ™
17 Agustus 2016

Tanggal merah. Libur memeringati hari kemerdekaan NKRI tercinta. Sebenarnya ingin pulang. Tapi koq yaa nanggung amat. Daripada cuma bengong di kost saya dan beberapa Punggawa K-180 pergi berpetualang. Tapi yang dekat-dekat saja. Disepakatilah air terjun Tenilo.

Tenilo ini sebenarnya nama desa di Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Pertama kali mendapat informasi adanya air terjun ini dari seorang rekan satker, Riswan Kono. Penasaran setelah melihat foto di laptopnya. Sepertinya cukup bagus.

Singkat cerita setelah molor dua jam dari jadwal yang direncakan kita pun tiba di pasar Pangi, Kecamatan Dulupi. Sesuai ancar-ancar yang diberikan oleh beliau, dari pasar Pangi kita masuk menyusuri jalan desa sekira 5 km. Jalannya kurang bagus, masih berupa tanah berbatu. Belum bisa dilalui kendaraan roda 4 atau lebih.

Dan ketika spido si Biru menunjukkan 5 km itu sudah terlewati sementara air terjun dimaksud belum tertemui, wajar donk kita sebagai petualang amatir mulai was-was. Mulailah kita mempraktikkan peribahasa jaman sekolah dulu "Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya bertanya-tanya juga". >_<

Akhirnya setelah ganjil 3x bertanya-tanya-tanya kita pun tiba di tekape sodara-sodara.


Punggawa K-180 Air Terjun Tinelo
air terjun Tenilo


Ternyata debit air terjunnya sudah jauh berkurang dibandingkan foto yang pernah kita lihat. Airnya juga keruh kecoklatan. Masih mending kalau coklat kopi susu enak bisa diminum. Tapi lumayan lah buat refreshing daripada lumanyun.. :p

Kita pun tidak berlama-lama di air terjun itu. Yang penting sudah selfie. *jiaaah..

Berpindahlah kita ke dermaga. Berteduh sambil menatap lautan. Berkhayal siapa tau di siang yang begitu terik tetiba ada yang datang berbaik hati menawarkan es cendol.

Dan ternyata benar ada yang datang. Seorang pemuda warga setempat. Tapi bukan menawarkan es cendol melainkan berbagi informasi kalau di sebalik pulau yang ditumbuhi pepohonan bakau di depan sana ada pantai putih yang lumayan bagus, yang saat ini sudah mulai dibangun akses jalan darat sehingga tidak harus naik perahu kalau pengin ke sana.

Jalannya masih berupa tanah berbatu. Berjarak hampir 3 km. Hamparan pasir putihnya cukup luas. Bahkan mungkin lebih luas dari pantai pasir putihnya Pulau Saronde. Tapi masih tampak kurang bersih. Di hampir sepanjang bibir pantai masih banyak terdapat sisa-sisa akar pepohonan bakau yang sepertinya baru ditebang. Menurut informasi, pantai itu sedang dalam tahap awal untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Boalemo. Kemungkinan areal bekas pepohonan bakau tadi mau dibangun cottage dan fasilitas pendukung lainnya.

Dari penuturan warga setempat, pantai itu bernama pantai Ratu. Tapi sewaktu kita bersantai di bawah pohon yang rindang, menatap lautan lepas dan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi sambil bermain pasir, mungkin karena pengaruh lapar jadinya butiran-butiran pasir itu seperti bumbu koya kuah soto yang lezat. Jadilah kita menamainya menjadi pantai Koya. *haiiiis.. >_<

Dari petualangan ini ada pelajaran yang kita dapatkan. Pertama, bahwa sejatinya negara kita tercinta ini memiliki banyak potensi wisata namun masih sangat sedikit yang dieksplorasi dan dikelola secara optimal. Kedua, bahwa saat kita ingin mencapai suatu goal dan ternyata goal itu tidak seperti yang kita inginkan, tidak sesuai target istilahnya, terkadang kita menemukan sesuatu yang lain yang bisa dijadikan sasaran target lainnya. Sama seperti kita yang target awalnya hanya mencari air terjun ternyata dapat bonus pantai Koya, eh pantai Ratu.

Maka janganlah pernah berputus asa karena Tuhan selalu mampu untuk memberikan lebih dari apa yang kita minta.

Merdeka!!!


Air Terjun Tenilo Tilamuta
air terjunnya 2.7 cm sebelah kanan >_<


Belom sempat ngopi foto dari kamera. Cuma ada ini. Credited Lee PAW.

Pohon Itu..

by prajuritkecil99 ™
Sebenarnya saya sudah nyaris lupa bahwa sembilan bulan yang lalu pernah 'menanam' satu pohon Kelengkeng di daerah Blitar. Hingga beberapa hari yang lalu saya mendapati sebuah notifikasi mengenai laporan seed progress baru dari iGrow.

Awalnya dulu saya hanya coba-coba karena penasaran, sehingga hanya 'menanam' satu pohon. *alasan! aslinya siih karena memang tidak ada dana.. >_<

Ternyata setelah sembilan bulan berlalu pohon itu kini sudah mencapai tinggi hampir satu meter. Alhamdulillah..

Mumpung kesempatan masih sangat terbuka nih, bagi sahabat para pecinta lingkungan; demen go-green; ingin berpartisipasi dalam menjaga ketersediaan pangan; punya cukup dana tapi tidak memiliki lahan dan skill dalam hal bercocok tanam; ingin berinvestasi sekaligus beramal, mungkin iGrow bisa dijadikan referensi.

Berawal dari satu pohon semoga bisa membawa kebaikan bagi kelangsungan hidup anak cucu kita di kemudian hari.

Semoga..


Pohon Kelengkeng iGrow
ilustrasi pohon kelengkeng
sumber gambar dari inbox iGrow

Hmmm..

by prajuritkecil99 ™
Yuhuuu..

Sepertinya sudah cukup lama tidak posting sesuatu di sini. Tepatnya semenjak kembali aktif di dunia perfesbukan. Sukanya update status dan bikin catatan di fesbuk. Blognya jadi ditinggalin. Diduakan.. >_<

Kemarin pas libur sebenarnya ada inspirasi buat bahan postingan. Tapi pas balik lagi ke Marisa, tidur di kos barang satu jam koq semua inspirasi itu jadi hilang yaa. Sekarang jadi bingung mau posting apa.. *alesan :v

Ada ide dari kalian?


prajurit kecil

Desa Ataupun Kota Sama Saja, Yang Penting..

by prajuritkecil99 ™
Syahdan di satu kampung pada suatu desa yang terpelosok, tersebutlah seorang pemuda yang bernama Buringo. Sudah takdirnya menjadi orang kaya manakala tanah seluas 777,7 hektar yang dimilikinya tiba-tiba dibeli oleh orang asing dari negara yang namanya dirahasiakan untuk dibangun suatu proyek yang juga dirahasiakan, melalui perantara seorang teman yang masih punya hubungan saudara dengan temannya teman dari saudaranya Buringo. Nama si perantara itu adalah Biyongo.

Singkat cerita, setelah memiliki uang yang sangat banyak Buringo pergi kota XXI untuk suatu urusan yang ikut-ikutan dia rahasiakan, sekaligus mau bersilaturahmi dengan Biyongo. Selama beberapa hari sampai dengan urusannya selesai Buringo tinggal di hotel mewah yang konon merupakan hotel bintang 5,5 pertama yang dibangun di kota itu.

Bukan tanpa alasan dia memilih hotel itu. Pertama karena dia ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal di hotel mewah yang harga sewa kamar per malamnya setara dengan 100 ekor sapi yang belum lama ini dia beli, kedua karena dia ingin menyenangkan pak RT yang pengin banget punya koleksi korek api dan sandal hotel seperti yang dimiliki pak Kades. Dia masih ingat betul pesan yang dibisikkan pak RT kepadanya sesaat sebelum dia berangkat ke kota, "Nak Buringo, Bapak doaken semoga perjalananmu lancar. Bapak ndak minta oleh-oleh, cuma nanti kalau pulang tolong bawaken korek api dan sandal dari hotel yang paling mewah. Bapak mau pamerin sama pak Kades. Mentang-mentang sering ikut sosialisasi di kota dia sering pamer koleksi korek api dan sandal dari hotel. Bapak kan nggak bisa digituin..". Dan Buringo pun hanya bisa manggut-manggut.

Begitulah..

Setibanya di kota XXI Buringo langsung booking hotel yang paling mewah di kota itu. Setelah semua urusan reservasi beres dia lalu diantar oleh seorang petugas hotel yang sekaligus membawakan dua koper miliknya yang masing-masing berukuran 32 inchi. Dia dapat kamar nomor 16161. Petugas hotel itu dengan sopan menyilakan Buringo untuk masuk lift. Buringo pun masuk dengan ragu-ragu.

Tak seberapa lama berada di dalam lift, tetiba Buringo berteriak dan marah-marah kepada petugas hotel. Petugas hotel yang lagi asik melamun membayangkan nominal tip yang akan diterimanya pun jadi kaget. "Mas, saya ini memang wong ndeso. Tapi bukan berarti saya ini goblok. Saya sudah bayar mahal-mahal untuk nginap di hotel ini. Kok kamarnya cuma begini? Sudah kecil, tidak ada toilet, tidak ada AC, tidak ada TV. Bahkan tempat tidurnya pun tidak ada! Jangan main-main, yaa!" sungut Buringo dengan galak.

Beruntung si petugas hotel sudah ditraining oleh bagian human resource sehingga langsung bisa menguasai keadaan dan tetap sabar. Dengan ramah plus senyum cemerlang, petugas hotel itu pun menjawab, "Maaf Pak.. kita belum sampai di kamar Bapak di lantai 161. Kita masih di lift..".


***


Yuhuuu.. jangan terlalu serius gitu bacanya masbro, mbaksista! :p

Cerita di atas cuma fiktif. Idenya saya dapatkan dari salah satu cerita lucu yang banyak bertebaran di internet. Sengaja saya bikin cerita itu karena sebagai orang dari desa saya pun pernah menunjukkan ke'ndeso'an saya sewaktu pertama kali pergi ke ibu kota sebelas tahun yang lalu. Yaa walaupun tak semua yang berasal dari desa berlaku demikian dan kisah yang saya alami pun tak sama dengan cerita di atas.

Dan dari sekian ke'ndeso'an saya yang belum bisa enyah adalah selalu merasa pusing jika melihat keramaian semisal lalu lalang kendaraan dengan kebisingan dan kemacetan yang selalu menyertainya, juga ketika melihat rumah-rumah atau bangunan yang tampak crowded yang seolah kian menyesakkan dada.

Sama seperti yang saya rasakan kemarin dan kemarinnya lagi ketika pergi ke kota. Padahal secrowded-crowdednya Gorontalo masihlah sangat lapang dan tak pernah macet kecuali malam Minggu. Itupun macetnya tak seberapa lama. Jauh berbeda dengan di Manado, Makassar, Surabaya apalagi Jakarta. Tapi kesemua kota itu bagi saya sama: selalu memusingkan dada, eh kepala.


salah satu view kota Surabaya dari kawasan Embong Malang
salah satu view kota Surabaya dari salah satu hotel di kawasan Embong Malang, satu tahun yang lalu..


Terkecuali kota Malang. Semacet-macetnya, secrowded-crowdednya atau seapalah-apalahnya kota Malang tetap membuat saya dan keluarga ceria.. :D


satu sudut di rumah di kampung halaman
satu sudut di sekitar rumah di kampung halaman, satu tahun yang lalu..


Maksudanya apa, coba? >_<
 
Copyright © 2014 - prajuritkecil99™ - Powered by Blogger
Template by Creating Website - Published by Mas Template