feaTured post by prajuritkecil99™
≡ posTingan aNyar ≡

Senja Tanpa Voli Kebahagiaan

by prajuritkecil99 ™
Sudah hampir ti3a pekan ini lapangan voli di markas K-180 sepi tak ada kegiatan. Saya khawatir jika terus-menerus dibiarkan begitu nanti jadi angker, dihuni mahluk dari dunia lain. 😔

Karena tugas dan berbagai urusan lah yang mengharuskan para punggawa silih berganti meninggalkan markas sehingga jumlah pemain sangat terbatas. Bahkan terkadang tidak cukup meski sekadar untuk formasi 3 vs 3.


Lapangan Voli KPPN Marisa
suatu senja di markas K-180


Padahal jika Marisa tidak sedang hujan pemandangan senja kadang begitu menawan. Semburat jingga mentari yang menyepuh awan makin terasa hangat jika para punggawa membersamainya dengan memainkan voli kebahagiaan.

Penuh canda. Penuh tawa kebahagiaan..

Taman Menara Limboto

by prajuritkecil99 ™
Hujan membawa berkah bagi seluruh negeri. Tak terkecuali pada tempat di mana saya tinggal saat ini,- Limboto.

Limboto adalah salah satu kecamatan dari 19 kecamatan di Kabupaten Gorontalo, yang memiliki icon atau landmark berupa Menara Keagungan Limboto (kini berubah nama menjadi Tower Pakaya,- merujuk pada nama bupati yang sedang berkuasa pada era sewaktu menara tersebut dibangun - Ahmad Pakaya).

Menara setinggi 65 meter tersebut diresmikan bertepatan dengan acara pernikahan saya sekira 14 tahun yang lalu, tepatnya pada 20 September 2003. *aseeek 😛😙


Menara Limboto Kabupaten Gorontalo
Menara Limboto


Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan menara tersebut. Tidak seperti dulu-dulu yang cukup ramai pengunjung meski sekadar naik lift untuk kemudian melihat-lihat pemandangan alam terutama danau Limboto. Hanya saja, letak menara tersebut cukup strategis. Didukung dengan keberadaan taman kota dan masjid agung Baiturrahman sehingga membuatnya tetap eksis untuk dijadikan tempat nongkrong dari berbagai kalangan, apalagi pas malam Kamis dan malam Minggu.

Taman di seputaran menara itulah yang belakangan ini tampak kian memesona. Jujur saja, selama ini menurut saya taman tersebut jauh dari kata indah. Biasa saja. Gersang malah. Bahkan terkesan kumuh! Para penjual makanan semaunya sendiri mendirikan lapak. Saingan dengan parkir kendaraan yang semrawut. Sampah bertebaran di mana-mana. Pada beberapa spot bau pesing bekas air kencing. 😖


Taman di Seputaran Menara Limboto
salah satu lokasi lapak di seputaran Menara Limboto


Tapi itu dulu. Sekarang lapak penjual makanan sudah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi lebih rapi. Parkir kendaraan meski masih sembarangan tapi sudah tidak sesemrawut seperti yang dulu. Bau pesing tak lagi tercium. Mungkin telah hanyut dan ternetralisir oleh air hujan. Yang pasti, taman itu kini menjadi lebih indah dan asri. Pepohonan dan bebungaan tumbuh subur. Hujan benar-benar membawa berkah bagi bumi. 😍

Akhir pekan kemarin, saya dan keluarga (minus Chaca yang menginap di rumah sepupunya di Hutuo) jalan-jalan mengitari taman. Mumpung masih pagi. Udara masih segar. Terlebih masih sepi. Jadi bebas untuk berfoto. 😄


Taman Menara Limboto
😆 penunggu taman 😆


Taman Limboto
😍 berkah hujan 😍


Semoga saja keindahan taman tersebut tetap terjaga meski nanti hujan tak lagi menyapa bumi.

Perlu diingat, bahwa bukan hanya tugas pemerintah untuk menjaganya. Ada peran kita semua di situ.

Kalau bukan kita, siapa lagi?!

Extreme Weather

by prajuritkecil99 ™
Alhamdulillah, perjalanan Limboto-Marisa pagi tadi berjalan lancar. Semua karena ridha dan kuasaNya. Padahal jelang berangkat tadi badan masih tidak fit. Meriang. Kabut tebal dan hempasan angin yang dingin kian menambah nyeri pada tulang dan sendi. Sempat berniat untuk minta ijin tidak masuk kerja. Tapi demi mengingat masih ada pekerjaan yang belum rampung dan potongan 5% per hari akhirnya niatan itu pun urung.

Akhir-akhir ini cuaca memang cukup ekstrim. Beberapa kali mendapati langit yang sedang panas tetiba berubah drastis menjadi hujan deras. Jadi musti pandai-pandai menjaga kesehatan.

Hujan yang turun ini adalah berkah dariNya. Yang bisa menumbuhkan dan menghijaukan bumi. Namun jika tidak dikelola dengan baik, curah hujan yang kadang seolah tanpa henti itu pun bisa menjadi bencana. Seperti tanah longsor atau banjir pada beberapa tempat yang saya jumpai selama di perjalanan.


Berkah Hujan - Rumput di Halaman Markas K180
Berkah Hujan - Rumput di Halaman Markas K180


Tempat kerja masih sepi. Baca-baca artikel dan berita di internet. Ada artikel yang sangat bagus dari Dr. Muhaimin Iqbal. Judulnya Extreme Weather.

Berikut ini cuplikannya:


Sudah lebih dari 16 bulan negeri ini tidak mengalami musim kering. April sampai September 2016 lalu yang seharusnya musim kemarau,- tetap turun hujan sehingga disebut kemarau basah. Hari-hari ini kita memasuki pekan kedua bulan April,- kita juga masih diguyur hujan di sana-sini. Hujan dapat menjadi berkah seperti melonjaknya panenan padi kita tahun lalu, juga bisa menjadi musibah dengan banyaknya tanah longsor, dlsb. Tetapi extreme weather bukanlah hal baru, ribuan tahun lalu juga sudah terjadi. Ada cara untuk menyikapinya dan ada cara untuk mengatasinya.

Ribuan tahun lalu, di jaman Nabi Yusuf 'Alaihi Salam negeri Mesir mengalami extreme weather yang amat sangat. Bayangkan saat itu hujan turun sepanjang 7 tahun kemudian diikuti oleh kekeringan yang juga 7 tahun. Kejadian cuaca ekstrim sampai kembalinya cuaca normal ini direkam lengkap dalam rangkaian ayat-ayat berikut:

"Wahai orang yang sangat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor yang kurus. Tujuh tangkai yang hijau dan tujuh lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.." (QS 12:46)

"Dan Yusuf berkata: "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun secara sungguh-sungguh, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit yang kamu makan.." (QS 12:47)

"Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit yang kamu simpan.." (QS 12:48)

"Setelah itu akan datang tahun di mana manusia diberi hujan dan pada masa itu mereka memeras (anggur).." (QS 12:49)

Banyak sekali pelajaran yang terkandung dari rangkaian empat ayat tersebut di atas. Di antaranya adalah petunjuk datangnya musim yang silih berganti, setelah hujan yang panjang akan muncul kemarau yang panjang. Ketika kita diberi hujan yang panjang, waktunya untuk menyiapkan bekal menghadapi kemarau panjang.

Tetapi cuaca ekstrim itu juga bisa pulih seperti yang ditunjukkan di ayat 49. Bila dibaca terus rangkaian ayat-ayat ini, kita akan bisa mengetahui bahwa pulihnya iklim itu pada saat negeri dikelola oleh seorang yang adil, jujur, saleh, mampu mengendalikan nafsunya dan dia seorang yang hafidzun aliim,- pandai menjaga amanah dan berilmu pengetahuan.

Di surat lain kita juga bisa belajar bahwa cuaca kering yang ekstrim bisa diatasi dengan beristighfar. "Maka aku berkata: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu.." (QS 71:10-11)

Pelajaran lain yang sangat berguna untuk jaman ini adalah teknologi pasca panen biji-bijian yang tersirat di surat Yusuf ayat 47 tersebut di atas.


Yang menarik dari artikel tersebut adalah keterkaitan antara cuaca ekstrim yang sedang kita alami saat ini dengan peristiwa yang pernah terjadi sebagaimana kisah di jaman nabi Yusuf.

Saya jadi teringat pas kapan hari ada yang sharing tentang fenomena cuaca yang terjadi saat ini dikaitkan dengan tanda-tanda akhir jaman. Kita memang tidak akan pernah tau kapan hari akhir itu tiba. Tanda-tandanya pun masih penuh misteri. Terlepas dari itu, yang berkaitan dengan cuaca ekstrim ini saja misalnya,- alangkah baiknya jika kita ada persiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang sangat berpeluang kita alami.

Salah satu upaya tersebut berhubungan dengan ketersediaan pangan, yakni menyimpan hasil panen untuk dimanfaatkan saat musim kemarau atau musim paceklik nanti.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bagaimana kearifan lokal suku Baduy,- melalui apa yang disebut dengan Leuit telah mampu menjaga padi yang mereka simpan bahkan konon bisa bertahan selama lebih dari 100 tahun!

Entah darimana mereka belajar hal tersebut tapi yang pasti teknologi Allah itu nyata terbukti. Sebagaimana kisah di jaman nabi Yusuf, rahasia dari suku Baduy sehingga padi yang mereka simpan bisa tahan cukup lama yaitu karena mereka menyimpan padi tersebut tetap dalam tangkainya!

Masya Allah..

Ini bisa menjadi pelajaran, pengingat sekaligus penyemangat bagi kita semua. Mumpung hujan itu masih turun di bumi ini. Mumpung masih ada yang bisa kita tanam. Menanamlah!


Pepohonan di Halaman Belakang Markas K180
Pepohonan di Halaman Belakang Markas K180


Menanam apa saja yang bisa kita makan. Syukur-syukur jika itu berupa biji-bijian yang selain bisa kita makan juga bisa untuk disimpan hingga sekian masa nanti.

Menanamlah!

Karena akan tiba masanya dan janji Allah tak pernah salah.

Pantai Pohon Cinta

by prajuritkecil99 ™
Pantai Pohon Cinta,- namanya cukup unik. Seunik nama kecamatan di mana pantai itu berada, MARISA.

April 2017 adalah bulan ke-50 saya beroleh kesempatan untuk bertugas di daerah ini. Sungguh perjalanan waktu yang sangat cepat meski kadang terasa begitu berat.

Alhamdulillah beroleh rekan kerja yang baik,- Punggawa K-180 yang selalu bisa menjadi penghibur saat sedang merasa kesepian atau ketika sedang rindu dengan keluarga tercinta.

Pantai Pohon Cinta,- karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja, dulu kita sering nongkrong di sana. Membersamai senja dengan berbagi cerita, bercanda penuh tawa, sambil menikmati pisang goreng atau jagung bakar.

Tempat ini sebenarnya cukup asyik, terlepas dari stigma negatif yang disandangnya. Pun meski di sana sini masih banyak sampah berkeliaran.

Semoga masyarakat cepat sadar dan turut aktif menjaga kebersihan lingkungan sehingga landmark Marisa City itu kian memesona.


Pantai Pohon Cinta
view Marisa City - pantai Pohon Cinta

Dari Desa Untuk Desa

by prajuritkecil99 ™
Yuhuuu..

Akhir pekan kemarin kita bisa jalan-jalan pagi dengan formasi lengkap. Jarang-jarang bisa begitu. Biasanya kalau libur apalagi pas cuaca lagi mendung anak-anak maunya cuma di kamar. Mainan HP atau nonton film di laptop. Kalau diajak jalan-jalan apalagi blusukan lihat-lihat pemandangan di sawah atau kebun pasti menolak. Adaaa saja alasannya. Tapi alhamdulillah kemarin mau.

Judulnya saja jalan-jalan, aslinya siih tetap naik motor. :D

Biasanya satu motor buat berempat rame-rame. Tapi karena belum lama ini saya habis terjatuh, istri jadi khawatir. Akhirnya pakai dua motor. Saya boncengan sama Zhie, istri saya boncengan sama Chaca.

Rute awalnya masih sama seperti dalam video yang dulu pernah saya upload di FB. Tapi setelah memasuki kawasan IAIN Sultan Amai kita ambil rute yang berbeda dengan sebelumnya. Jalannya masih berupa tanah berbatu. Kiri-kanan pepohonan rimbun. Sesekali terdengar suara burung dan entah hewan apa yang membuat Zhie takut.

Jalan terus sampai ke atas bukit. Ada bangunan gedung cukup besar yang belum jadi. Dari situ bisa melihat desa Pone dan sebagian Limboto yang masih hijau. Rumah-rumah warga tampak kecil di antara rerimbunan pohon kelapa, kebun dan hamparan sawah yang luas.


Pemandangan Limboto & Pone


Bukit di Desa Pone    Hehe..


Foto-foto sebentar langsung balik cuss lagi. Chaca & Zhie tidak berani lama-lama di situ, khawatir nanti ada binatang buas atau apa gitu seperti di film Jumanji. Begitulah jika jarang mbolang, merepih alam. Ada suara burung atau deru angin yang terdengar tidak biasa langsung dikira ada hantu. O_o

Dari atas bukit terus turun, lurus lalu belok kanan. Jalannya lebih lebar tapi masih belum diaspal. Karena mendung kita tidak jadi mengambil rute yang bisa tembus ke arah bandara. Tapi belok kiri, melintasi jalan setapak di areal persawahan yang menuju ke arah rumah, tidak jauh dari kantor Kejaksaan Negeri Limboto.

Belasan meter kemudian saya berhenti. Pinjam 'siomay' punya Zhie untuk mengabadikan beberapa momen para petani yang sedang menggarap sawah. Sebagaimana bapak mertua yang setelah pensiun kini semakin aktif menekuni profesinya sebagai petani, mereka pun tampak giat dan penuh semangat mengolah sawahnya. Meski saat itu sedang mendung. Meski tak ada jaminan apakah panen mereka nanti berhasil. Akankah untung atau malah merugi. Tapi mereka tetap semangat. Tidak seperti kita, malas-malasan bekerja hanya karena Senin kali ini adalah 'hari kejepit'. *kita? lo aja keleeus :p


Sawah di Desa Pone 
pak petani dan anaknya sedang membajak sawah


Petani Adalah Pahlawan Pangan 
guyub.. memindahkan bibit padi yang siap tanam..


Melihat mereka saya jadi terenyuh. Mereka yang benar-benar 'orang kecil' dan asli dari desa, malah sering tidak merasakan secara nyata manfaat dari sekian banyaknya anggaran yang dialokasikan untuk desanya. Pupuk yang mereka beli masih mahal (sudah begitupun pupuknya kadang tidak ada). Beras hasil panen mereka masih dihargai murah. Untuk mengairi sawah hingga kini masih mengandalkan tadah hujan. Belum ada terobosan atau inovasi dari pemerintah (khususnya PEMDA setempat) agar para petani bisa mengolah sawah dengan baik sehingga peluang keberhasilan panen lebih besar dan kesejahteraan mereka meningkat. Paling banter hanya dibuatkan saluran irigasi, itupun terkesan ala kadarnya karena tak sedikit saluran irigasi yang cepat rusak. Padahal anggarannya lumayan besar. -_-

Apalagi pemerintah telah menggulirkan Dana Desa. Mari kita semua bersinergi untuk mengawalnya. Semoga alokasi Dana Desa yang jumlahnya sangat besar tersebut dimanfaatkan secara optimal demi sebenar-benar kemakmuran masyarakat desa, bukan untuk dikorupsi dan dinikmati oleh segelintir orang apalagi untuk keperluan partai.

Demi kemakmuran para petani tadi, misalnya.

Pun kita patut bersyukur dan bangga dengan mereka. Karena andil mereka hingga saat ini kita masih bisa makan.

Benar begitu?
 
Copyright © 2014 - prajuritkecil99™ - Powered by Blogger
Template by Creating Website - Published by Mas Template