Tentang Hujan

by prajuritkecil99 ™
ada yang bilang hujan itu bencana
tapi banyak juga yang berkata bahwa hujan itu anugerah
hujan pengundang keluhan
tapi juga pembangkit memori
hujan adalah hal yang dibenci hewan-hewan berbulu bermata manja
tapi kesukaan para katak dan penghuni ekosistem rumput
hujan itu pencipta kerusakan bagi sepatu-sepatu berbahan kanvas
tapi juga penilai ketangguhan sebuah sandal jepit kacangan
hujan penghambat manusia berlibur akhir pekan
tapi juga pemberi nafkah bagi para penjaja payung jalanan
hujan itu minus, hujan itu plus
hujan itu menyebalkan, hujan itu menyenangkan
hujan membawa kesedihan, hujan itu mencipta kerinduan
hujan memaksa saya melihat segala sesuatu dari dua sisi, dua sudut pandang, dua pasang mata, dua otak, bahkan dua hati
dan sebenarnya hujan membuat saya membahana
memaksa saya untuk tersenyum bahagia
dan saya tak bisa mengelak tentunya
hujan berhasil membuai saya dalam sebuah euforia yang luar biasa
mengalirkan sejuta kata tak tersurat
yang hanya sanggup melayang di tayangan salindia otak
melambungkan sebuah imaji akan masa lalu, sekarang dan masa datang
menjadi mesin waktu yang mampu berpindah-pindah
lebih hebat dari laci milik Nobita ataupun mobil di film "Back To The Future"

***


Hollaa sobat eMDee.. assalamualaikum.. ^-^

Lagi asyik ngerjain revisi nih, break sebentar, ngopi..

Iseng-iseng browsing trus nemu puisi "Pencerita Hujan"-nya Candella Sardjito.

Jadi kangen hujan.

Sepertinya sudah dua bulan lebih tempat ini belum diguyur hujan. Sengaja pagi jelang siang tadi saya minta tolong teman honorer untuk mencucikan motor saya. Sudah dua bulanan juga memang motor saya tidak saya cuci. Dan biasanya kalau sudah ducuci, langit berbaik hati mencurahkan air dari gumpalan-gumpalan awan di angkasa itu untuk si bumi. Tentunya atas titah dan ridha dari Rabb Yang Maha Berkuasa.. :v

Anyway, tentang hujan saya ada cerita nih..

Cerita lama sewaktu pulkam ke kampung halaman tercinta. Aah.. jadi kangen pengin pulkam juga.

Tuuuh.. kan! -_-


Satu waktu di sebuah desa yang berjarak tak lebih dari 6 KM dengan kaki Gunung Arjuna.

Di teras rumah yang sederhana, saya sedang menikmati sore yang teduh. Cuaca tidak terik namun juga tidak terlalu mendung. Angin berhembus. Semilir. Menggoyangkan bebungaan. Dedaunan. Mendinginkan sisa kopi dalam gelas. Masih ada sekira dua tiga seruputan lagi menjelang tandas.

Satu seruputan pertama..

Atas kuasa Tuhan. Tetiba angin bertiup kencang. Menggoyangkan pohon trembesi dan beringin besar di seberang sungai. Wajah langit berubah drastis. Mendadak kelam. Menghitam legam. Seolah alam sedang murka. Dalam rentang waktu yang begitu singkat tercurahlah butiran-butiran air yang tak berbilang jumlahnya. Semakin lama kian menderas menghunjam bumi.

Seketika tampaklah adegan kehidupan yang sangat kontras di depan mata.

Sebagian orang langsung kalang kabut, berlarian menyelamatkan beberapa lembar pakaian yang dijemurnya tadi siang. Bahkan mungkin sedari pagi.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan mereka yang kalang kabut itu. Wajar. Bahkan mungkin malah aneh jika mereka tetap membiarkan pakaian yang sudah capek-capek dicuci dan dijemur dibiarkan basah begitu saja oleh hujan.

Namun yang menjadi tak wajar adalah mengapa harus disertai umpatan? Makian?! Yang menjadi salah adalah umpatan dan makian itu ditujukan kepada Sang Pencipta hujan. Kepada Tuhan!

Padahal tadi malam, belum genap 24 jam dari sekarang, sebagian dari mereka mengeluh karena sudah lama tidak turun hujan. Bahkan ada yang sedikit mengutuk karena sudah bosan kegerahan.

Sangat kontras manakala pada saat yang hampir bersamaan dengan mereka yang kalang kabut tadi melintas empat orang bapak-bapak berpakaian sederhana. Melangkah ringan dalam derasnya hujan, sepulang kerja sebagai tukang bangunan dari desa seberang. Baju, celana dan tas punggung mereka dibiarkan kuyup. Sama sekali tanpa ketergesaan. Jauh dari kesan panik, bahkan kesemuanya tersenyum sembari saling berbincang. Dan.. Yaa Tuhan! Senyuman mereka begitu tulus. Menjadi indah dan sangat luar biasa adalah ketika mereka lewat pas di depan saya, dari salah seorang di antaranya terucap kalimat lirih sederhana, "Alhamdulillah.. matur nuwun Gusti, pun maringi udan" (Alhamdulillah.. terima kasih Tuhan telah memberikan hujan).

WOW!!!

Benar-benar kalimat yang sederhana namun sarat makna! Kalimat yang sanggup membuat satu seruputan kedua sisa kopi yang ada menjadi lebih terasa nikmat demi setelah mendengarnya.

Kehidupan mereka memang sederhana, lebih tepatnya bersahaja. Sesederhana itu cara mereka dalam mensyukuri anugerahNya. Dan memang sejatinya bersyukur itu sangat sederhana, tak pernah rumit. Terkadang kita sendirilah yang menciptakan kerumitan itu.

Iya apa iya?! ^-^


Tentang Hujan

monggo dishare ^-^
 
Copyright © 2014 - prajuritkecil99™ - Powered by Blogger
Template by Creating Website - Published by Mas Template