Perjuangan Menuju Air Terjun Taludaa

by prajuritkecil99 ™
We are Punggawa K-180


Punggawa K-180 at Taludaa Waterfall


Yuhuuu.. assalamualaikum Mas Bro & Mbak Sista semuanyaah! ^-^

Cerita Pejalan edisi kali ini sengaja ada atribut "PERJUANGAN"-nya karena benar-benar memerlukan perjuangan yang lebih jika dibandingkan dengan perjalanan yang pernah dilakukan pada edisi sebelumnya. Mumpung pas hari Senin juga, jadi biar makin semangat getoooh! :v

Perjuangan tahap awal dimulai dari usaha untuk bangun pagi demi bisa on time. *yaelaa, bangun pagi aja butuh perjuangan! x_x

Eits.. Jangan salah! Bagi sebagian orang, bangun pagi di saat hari libur itu nggak gampang loh. Godaan untuk tidur lagi sehabis shalat Subuh biasanya sangat dahsyat. Apalagi saat cuaca mendukung dan semalam capek bingit habis kerja.

Perjuangan berikutnya adalah menempuh perjalanan panjang berbalut kantuk dan lelah untuk mencapai tempat tujuan itu sendiri. Air terjun Permai atau yang lebih dikenal dengan sebutan air terjun Taludaa, merujuk pada nama desa tempat di mana air terjun itu berada ternyata cukup jauh sodara! Berdasarkan catatan pada spidometer si Biru, jarak antara pusat kota Gorontalo dengan Desa Taludaa, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bulango adalah 77 KM. Jadi total jarak yang harus kami tempuh mulai dari start di Marisa, Kabupaten Pohuwato hingga finish di Taludaa tak kurang dari 252 KM!! Lumanyun kan?! :p

Tapi bukan Punggawa K-180 kalau gampang menyerah. Kami berlima: saya, Bro Mi, Lee PAW, Anggit dan Hendro ditambah Kang Alee yang menyusul ikut dari kota sehingga jadi genap berenam, dengan diiringi cuaca yang kadang mendung dan kadang terik, diselingi dua-tiga kali harus berhenti karena ada "sweeping" dan mampir isi BBM, bermodalkan BISMILLAH dan Mie Ayam Jakarta kita tetap semangat menyusuri tiap jengkal rute yang ada. :D


Taludaa Ngaso Disik Dab!


Secara umum kondisi jalan utama dari Kota Gorontalo menuju Kecamatan Bone cukup bagus. Hampir 90% mulus. Walaupun harus melalui banyak tanjakan, turunan dan tikungan tajam tapi perjalanan terasa menyenangkan. Pertama karena sepi sehingga lancar, kedua karena suguhan pemandangan alam yang luar biasa. Di sebelah kiri ada perbukitan dan hutan-hutan kecil yang masih hijau, di sebelah kanan ada lautan luas dengan pantainya yang menawan. Satu kombinasi yang sempurna! Sayang tidak sempat berfoto karena harus mengejar waktu supaya sampai di air terjunnya tidak terlalu sore.

Setidaknya ada dua objek wisata yang kami lewati sepanjang perjalanan, yakni pantai Botutonuo dan Taman Laut Olele. Yang kelihatannya sudah dikelola dengan cukup bagus Taman Laut Olele. Ada spot diving yang konon tak kalah jika dibandingkan dengan Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Saya sendiri belum pernah masuk ke Taman Laut Olele, kalau teman-teman sudah, selepas jalan santai di kota tanggal 30 Oktober kemarin. Kalau pantai Botutonuo sekilas tampak kurang terawat. Selain dua tempat itu sebenarnya masih banyak pantai lain yang juga bagus. Hanya saja belum atau tidak dioptimalkan. Padahal kalau digarap dengan serius, di beberapa lokasi menurut saya bisa menjadi objek wisata sebagus yang ada di luar negeri seperti di Itali dan Yunani yang pernah saya lihat di TV dan internet itu. Beneran sumpah!

Pas melintas di satu tikungan tajam dengan posisi menurun saya sempat melihat ada cekungan pantai yang sangat indah. Ombaknya tenang. Pasirnya putih. Airnya sangat jernih berwarna hijau tosca. Ada bebatuan karang yang kokoh. Saya sempat berkhayal punya tempat peristirahatan di situ. Pagi berenang di laut. Jelang senja bersantai di atas ayunan sambil ngopi menikmati semilir angin dan semburat jingga sang surya yang memantulkan warna kuning keemasan di atas permukaan air laut.. betapa damainya hidup ini! Tak salah kiranya jika Gorontalo mengklaim dirinya sebagai The Hidden Paradise. ^-^

*Siuman, kembali ke perjalanan.. :D

Untuk menemukan air terjun Taludaa ini gampang-gampang sulit. Terasa gampang karena ternyata dari jalan utama Desa Taludaa ke lokasi air terjun tidaklah jauh. Hanya sekira 2 KM sampai di area bendungan, batas di mana motor masih bisa melintas. Namun terasa sulit karena sepanjang perjalanan tidak ada satupun petunjuk tertulis mengenai air terjun ini. Apalagi bagi kami yang notabene pendatang dan belum mengenal medan. Musti berkali-kali bertanya supaya tidak tersesat. Termasuk saat harus menempuh jarak yang hanya 2 KM tadi. Setiap ada persimpangan kita musti menemukan orang untuk ditanyai. Makin terasa sulit karena kondisi jalannya benar-benar parah. Kemiringan tanjakan dan turunan yang terjal hingga mencapai 45° dengan jalanan yang berpasir dan berbatu cukup sulit untuk dilewati. Apalagi pakai bebek metik. Saya sempat ragu dan ingin melanjutkan dengan berjalan kaki saja karena beberapa kali ban motor selip dan hampir jatuh. Sekali lagi andai saja ada petunjuk yang menginformasikan mengenai rute maupun jarak tempuhnya. Kalau hanya 2 KM saya rasa tidak terlalu lama jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. Pemadangan alam sekitarnya juga lumayan bagus.


Jalan ke Air Terjun Taludaa     Bendungan Dekat Air Terjun Taludaa


Beruntung di dekat bendungan masih bisa bertemu orang lagi. Minta petunjuk lagi. Dari bendungan musti naik terlebih dahulu, terus jalan beberapa langkah kemudian turun menyusuri sungai. Lalu menyeberangi sungai setelah mendapati jalan setapak di sebelah kanan. Terus naik ke atas masuk ke dalam hutan, belok kanan kemudian belok kiri. Dekat, tidak sampai 200 meter. Suara dari derasnya air yang jatuh sudah mulai terdengar. Beberapa langkah kemudian, setelah melewati belokan ke kanan..

Taraaaaa!!! Akhirnya sampai juga di air terjun Taludaa. Alhamdulillah.. :D


Penunggu Air Terjun Taludaa


Nggak pakai lama Bro Mi, Anggit dan Kang Alee langsung nyebur. Saya ikutan nyebur tapi langsung balik pakai kaos lagi. Kedinginan. Sementara Hendro sibuk nyiapin tripod dan kamera, Lee PAW sudah siap dengan tongsisnya. Haha!

Air terjunnya lumayan tinggi. Mungkin ada sekira 40 meter. Debit airnya cukup banyak dan deras. Cocok dengan namanya, Taludaa yang berarti airnya besar atau melimpah. Airnya pun lumayan jernih meskipun tidak sejernih dan sedingin air terjun di Lombongo. Sejauh mata memandang semuanya masih benar-benar alami. Hutannya masih terjaga. Bahkan batang kayu yang melintang di sekitar kolam air terjun pun masih tetap dibiarkan apa adanya. Belum ada tanda-tanda sentuhan pembangunan atau apalah namanya dalam rangka optimalisasi objek wisata tersebut. Bisa dibilang air terjun Taludaa ini masih perawan.

Namun sama halnya dengan sebagian besar objek wisata di tanah air yang tidak dikelola ataupun kalau dikelola tapi lebih banyak yang terkesan ala kadarnya, selalu ada sampahnya. Kebiasaan mayoritas kita masyarakat Indonesia yang kurang peduli dengan kebersihan lingkungan. Sense of belonging sebagian kita terhadap fasilitas umum termasuk objek wisata yang ada memang masih sangat rendah. Di sekitar lokasi saya mendapati tak sedikit sampah yang berserakan mulai dari bekas botol air mineral, minuman energi, snack dan bahkan shampo sachet juga ada.

Memang tidak ada tempat sampah yang disediakan karena objek wisata tersebut belum dikelola. Tapi setelah makan minum atau mandi keramas alangkah bijak dan terpuji apabila sampahnya dibawa lagi dalam wadah plastik untuk kemudian nanti dibuang di tempat pembuangan sampah. Apalagi ada informasi yang menyebutkan jika air dari air terjun Taludaa ini juga dimanfaatkan sebagai sumber bahan air minum. Tentu harus dijaga betul kebersihannya. Semoga saja seiring waktu tingkat kepedulian kita makin meningkat dan pemerintah daerah atau fihak terkait dapat mengoptimalkan objek wisata ini dengan lebih baik.

Kami tidak bisa berlama-lama bercumbu dengan kemolekan air terjun Taludaa ini. Terhitung tidak sampai satu jam kami menikmatinya. Selain karena debit air yang semakin banyak dan kian deras, takut tiba-tiba banjir dan ada bebatuan yang ikutan terjun dari atas, juga karena waktu sudah terlalu sore. Masih ada hampir 80 KM lagi perjalanan balik yang harus ditempuh untuk kembali ke Kota Gorontalo dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke Marisa.

Capek, lelah, letih, lemas, lunglai dan sejenisnya tentu kami rasakan. Tapi setidaknya perjalanan pergi-pulang sejauh 504 KM yang telah kami tempuh tak sia-sia. Semua tergantikan dengan perasaan senang dan bahagia. Bersyukur pernah berkunjung ke Taludaa. Bersyukur bisa berada di Gorontalo. Bersyukur tinggal di Indonesia. Bersyukur telah diciptakan dan dihidupkanNya.

^-^

Tips jika Mas Bro & Mbak Sista mau jejalan ke air terjun Taludaa:

#1 Kalau nggak pengin capek mending naik mobil, sewa sopir. Jadi tinggal duduk santai, kalau ngantuk bisa tidur.

#2 Kalau pengin seru-seruan dan lebih bisa menikmati pemandangan alam yaa naik motor. Lebih bagus motor trail supaya lebih nyaman untuk jalanan yang berbatu.

#3 Jangan lupa bawa bekal makanan. Bakar-bakar sosis atau ikan atau apa gitu, insya Allah sangat menyenangkan. Tapi jangan lupa sampahnya dibawa balik dan buang ke tempat sampah!

#4 Jangan datang terlalu sore apalagi pas cuaca lagi hujan. Jangan berada terlalu dekat dengan kolam air terjun, cukup riskan!

#5 Pastikan baterai kamera atau gadget yang akan dipakai untuk berfoto sudah full charged!


Air Terjun Taludaa
all picts credited to Hendranto "Mas Pudjo" Putro & Lee PAW


kalau pengin lihat ke-Narsis-an kita yang lainnya sila stalking menu GALERI
monggo dishare ^-^
 
Copyright © 2014 - prajuritkecil99™ - Powered by Blogger
Template by Creating Website - Published by Mas Template