Extreme Weather

by prajuritkecil99 ™
Alhamdulillah, perjalanan Limboto-Marisa pagi tadi berjalan lancar. Semua karena ridha dan kuasaNya. Padahal jelang berangkat tadi badan masih tidak fit. Meriang. Kabut tebal dan hempasan angin yang dingin kian menambah nyeri pada tulang dan sendi. Sempat berniat untuk minta ijin tidak masuk kerja. Tapi demi mengingat masih ada pekerjaan yang belum rampung dan potongan 5% per hari akhirnya niatan itu pun urung.

Akhir-akhir ini cuaca memang cukup ekstrim. Beberapa kali mendapati langit yang sedang panas tetiba berubah drastis menjadi hujan deras. Jadi musti pandai-pandai menjaga kesehatan.

Hujan yang turun ini adalah berkah dariNya. Yang bisa menumbuhkan dan menghijaukan bumi. Namun jika tidak dikelola dengan baik, curah hujan yang kadang seolah tanpa henti itu pun bisa menjadi bencana. Seperti tanah longsor atau banjir pada beberapa tempat yang saya jumpai selama di perjalanan.


Berkah Hujan - Rumput di Halaman Markas K180
Berkah Hujan - Rumput di Halaman Markas K180


Tempat kerja masih sepi. Baca-baca artikel dan berita di internet. Ada artikel yang sangat bagus dari Dr. Muhaimin Iqbal. Judulnya Extreme Weather.

Berikut ini cuplikannya:


Sudah lebih dari 16 bulan negeri ini tidak mengalami musim kering. April sampai September 2016 lalu yang seharusnya musim kemarau,- tetap turun hujan sehingga disebut kemarau basah. Hari-hari ini kita memasuki pekan kedua bulan April,- kita juga masih diguyur hujan di sana-sini. Hujan dapat menjadi berkah seperti melonjaknya panenan padi kita tahun lalu, juga bisa menjadi musibah dengan banyaknya tanah longsor, dlsb. Tetapi extreme weather bukanlah hal baru, ribuan tahun lalu juga sudah terjadi. Ada cara untuk menyikapinya dan ada cara untuk mengatasinya.

Ribuan tahun lalu, di jaman Nabi Yusuf 'Alaihi Salam negeri Mesir mengalami extreme weather yang amat sangat. Bayangkan saat itu hujan turun sepanjang 7 tahun kemudian diikuti oleh kekeringan yang juga 7 tahun. Kejadian cuaca ekstrim sampai kembalinya cuaca normal ini direkam lengkap dalam rangkaian ayat-ayat berikut:

"Wahai orang yang sangat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor yang kurus. Tujuh tangkai yang hijau dan tujuh lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.." (QS 12:46)

"Dan Yusuf berkata: "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun secara sungguh-sungguh, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit yang kamu makan.." (QS 12:47)

"Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit yang kamu simpan.." (QS 12:48)

"Setelah itu akan datang tahun di mana manusia diberi hujan dan pada masa itu mereka memeras (anggur).." (QS 12:49)

Banyak sekali pelajaran yang terkandung dari rangkaian empat ayat tersebut di atas. Di antaranya adalah petunjuk datangnya musim yang silih berganti, setelah hujan yang panjang akan muncul kemarau yang panjang. Ketika kita diberi hujan yang panjang, waktunya untuk menyiapkan bekal menghadapi kemarau panjang.

Tetapi cuaca ekstrim itu juga bisa pulih seperti yang ditunjukkan di ayat 49. Bila dibaca terus rangkaian ayat-ayat ini, kita akan bisa mengetahui bahwa pulihnya iklim itu pada saat negeri dikelola oleh seorang yang adil, jujur, saleh, mampu mengendalikan nafsunya dan dia seorang yang hafidzun aliim,- pandai menjaga amanah dan berilmu pengetahuan.

Di surat lain kita juga bisa belajar bahwa cuaca kering yang ekstrim bisa diatasi dengan beristighfar. "Maka aku berkata: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu.." (QS 71:10-11)

Pelajaran lain yang sangat berguna untuk jaman ini adalah teknologi pasca panen biji-bijian yang tersirat di surat Yusuf ayat 47 tersebut di atas.


Yang menarik dari artikel tersebut adalah keterkaitan antara cuaca ekstrim yang sedang kita alami saat ini dengan peristiwa yang pernah terjadi sebagaimana kisah di jaman nabi Yusuf.

Saya jadi teringat pas kapan hari ada yang sharing tentang fenomena cuaca yang terjadi saat ini dikaitkan dengan tanda-tanda akhir jaman. Kita memang tidak akan pernah tau kapan hari akhir itu tiba. Tanda-tandanya pun masih penuh misteri. Terlepas dari itu, yang berkaitan dengan cuaca ekstrim ini saja misalnya,- alangkah baiknya jika kita ada persiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang sangat berpeluang kita alami.

Salah satu upaya tersebut berhubungan dengan ketersediaan pangan, yakni menyimpan hasil panen untuk dimanfaatkan saat musim kemarau atau musim paceklik nanti.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bagaimana kearifan lokal suku Baduy,- melalui apa yang disebut dengan Leuit telah mampu menjaga padi yang mereka simpan bahkan konon bisa bertahan selama lebih dari 100 tahun!

Entah darimana mereka belajar hal tersebut tapi yang pasti teknologi Allah itu nyata terbukti. Sebagaimana kisah di jaman nabi Yusuf, rahasia dari suku Baduy sehingga padi yang mereka simpan bisa tahan cukup lama yaitu karena mereka menyimpan padi tersebut tetap dalam tangkainya!

Masya Allah..

Ini bisa menjadi pelajaran, pengingat sekaligus penyemangat bagi kita semua. Mumpung hujan itu masih turun di bumi ini. Mumpung masih ada yang bisa kita tanam. Menanamlah!


Pepohonan di Halaman Belakang Markas K180
Pepohonan di Halaman Belakang Markas K180


Menanam apa saja yang bisa kita makan. Syukur-syukur jika itu berupa biji-bijian yang selain bisa kita makan juga bisa untuk disimpan hingga sekian masa nanti.

Menanamlah!

Karena akan tiba masanya dan janji Allah tak pernah salah.
monggo dishare ^-^
 
Copyright © 2014 - prajuritkecil99™ - Powered by Blogger
Template by Creating Website - Published by Mas Template